Imam Sholatku
Sri Utami, guru RA Ar- raihan Bantul,
peserta plpg UIN 2013
Sholat
merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di sekolah kami.Selain sebagai
bentuk pembiasaan beribadah sejak dini , kegiatan tersebut juga bertujuan ntuk
mengenalkan tata cara sholat kepada anak, mengenalkan peralatan- peralatan yang
harus digunakan saat melaksanakan sholat( seperti mukena, sajadah,peci),
mengenalkan adab-adab ketika sholat dan juga mengenalkan konsep kepemimpinan
dengan bergillliran menjadi imam.
Pada suatu hari
, ada sebuah kejadian yang membuat kami cukup terharu, senang tapi juga bingung mengambil sikap.Seperti biasa setelah
kegiatan inti dan penutup selesai, kami mengajak anak-anak untuk bersiap-siap
untuk melakukan kegiatan latihan sholat. Anak-anakpun langsung menyambut seruan
kami, mereka ada yang mengambil mukena, mengambil sajadah dan ada juga yang
mulai berdiri membuat shaf.Saat itu ada seorang anak laki-laki yang sudah
bingung ingin menjadi imam , kami
padahal sempat meliha t jadwal siapa yang bertugas jadi imam.
“ Bu, saya jadi imam ya buu..ya bu....” kata
anak itu berkali-kali sambil nggondeli baju kami.
Saat itu kami
belum bisa menjawab permintaan anak tadi. Setelah kami tanyakan jadwalnya siapa
yang jadi imam, teernyata bukan gillirannya anak tadi. Dia sudah jadi imam hari
sebelumnya.Dengan terpaksa kami tidak mengiyakan permintaan anak tadi meskipun
efeknya luar biasa sekali. Aanak tadi menangis meraung-raung sambil memukuli
badan kami berkali-kali.tapi meskipun ada insiden seperti ini kegiatan sholat
tetap kami laksanakan.dan anak tersebut tetap menangis meskipun kegiatan sholat
telah selesai, bahkan sampai dijemput ibunya pun anak tersebut masih tetap
menangis.
Pelajaran apa
yang bisa kita ambil dari sikap kami pada kejadian ini?
Pertama kami
ingin menunjukkan kepada anak tentang konsep bersabar atau antri.karena bila
kami ijinkan untuk menjadi imam berati kami sudah menyalahi kesepakatan
bergiliran yang dah kami buat, selain itu dengan tidak mengiyakan melatih anak
untuk bersabar.
Kedua, kami
sangat senang sekali, ternyata ada anak yang begitu bersemangat mengikuti
sholat, bahkan ingin memimpin teman-temannya.
Maafkan bu guru
nak, semoga besok kamu bisa menjadi pemimpin besar yang bijaksana.Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar