Peserta PLPG LPTK FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan ke-7 mengikuti pelatihan penulisan proposal penelitian tindakan kelas (PTK). Pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengalaman bagi para peserta untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas mereka. Disamping itu pelatihan ini juga diarahkan untuk membentuk budaya akademik bagi peserta untuk terbiasa mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus memperkaya pengalaman untuk menerapkan pendekatan saintifik dalam menyelenggarakan pembelajaran SKI. Diantara aktivitas pelatihan tersebut sebagaimana terlihat pada gambar-gambar berikut.
Blog ini merupakan media pembelajaran bagi para mahasiswa dan alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga untuk saling bertukar informasi, pengalaman dan ilmu antar sesama mahasiswa dan alumni
Kamis, 05 Desember 2013
Jumat, 08 November 2013
Refleksi Guru Madrasah
Pentingnya Mengenal Psikologis Anak
Oleh: Joko Agung Nugroho
Kegiatan madrasah berjalan seperti biasanya, siswa masuk ke dalam kelas terkondisikan dengan baik. Biarpun anak kelas satu masih ada yang dikantor, karena memang siswa kami kelas 1 ada yang sudah terbiasa ketika istirahat dan tidak ada aktivitas pembelajaran mereka masuk ke kantor untuk mendekati guru/wali kelas mereka. Dengan menggandeng beberapa anak untuk masuk ke kelas satu, saya kemudian memposisikan mereka untuk duduk. Kemudian saya mengkondisikan untuk segera dimulainya kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan harus menunjuk ketua untuk memimpin doa, karena untuk memimpin doa ternyata seumur mereka masih saling rebutan.
Pada waktu itu guru kelas 1 baru menjalani proses KKN sebagai syarat wajib untuk menyelesaikan S1 PAI. Dengan pengalaman seperti biasa....
Kamis, 07 November 2013
Berlatih Membuat Karya Tulis Ilmiah
Para PLPG Tahap kelima dari LPTK Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Sunan Kalijaga sedang berlatih memnulis karya
ilmiah. Latihan ini merupakan bentuk pengkondisian agar para peserta
terbiasa menulis karya ilmiah. Menulis bagi para guru umumnya masih
merupakan sebagai problem. Di antara problem yang dihadapai oleh mereka
adalah: 1) rasa malas, 2) waktu yang terbatas, 3) tidak ada simulasi dan
motivasi baik dari dalam diri maupun dari luar, 4) tidak atau belum
punya pengalaman yang memadai sehingga bingung mamu memulai, dan 5)
tidak ada dukungan dana. Untuk mengatasi problem-problem tersebut maka
para guru atau calon guru memang perlu dilatih dan dibiasakan untuk
menulis. Berikut galeri foto kegiatan pelatihan tersebut.
Rabu, 16 Oktober 2013
Belajar Menulis Karya Ilmiah
Para mahasiswa PPG Program Studi SKI sedang berlatih memnulis karya ilmiah. Latihan ini merupakan bentuk pengkondisian agar para mahasiswa terbiasa menulis karya ilmiah. Menulis bagi para guru umumnya masih merupakan sebagai problem. Di antara problem yang dihadapai oleh mereka adalah: 1) rasa malas, 2) waktu yang terbatas, 3) tidak ada simulasi dan motivasi baik dari dalam diri maupun dari luar, 4) tidak atau belum punya pengalaman yang memadai sehingga bingung mamu memulai, dan 5) tidak ada dukungan dana. Untuk mengatasi problem-problem tersebut maka para guru atau calon guru memang perlu dilatih dan dibiasakan untuk menulis.
Kamis, 19 September 2013
Imam Sholat
Imam Sholatku
Sri Utami, guru RA Ar- raihan Bantul,
peserta plpg UIN 2013
Sholat
merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di sekolah kami.Selain sebagai
bentuk pembiasaan beribadah sejak dini , kegiatan tersebut juga bertujuan ntuk
mengenalkan tata cara sholat kepada anak, mengenalkan peralatan- peralatan yang
harus digunakan saat melaksanakan sholat( seperti mukena, sajadah,peci),
mengenalkan adab-adab ketika sholat dan juga mengenalkan konsep kepemimpinan
dengan bergillliran menjadi imam.
Pada suatu hari
, ada sebuah kejadian yang membuat kami cukup terharu, senang tapi juga bingung mengambil sikap.Seperti biasa setelah
kegiatan inti dan penutup selesai, kami mengajak anak-anak untuk bersiap-siap
untuk melakukan kegiatan latihan sholat. Anak-anakpun langsung menyambut seruan
kami, mereka ada yang mengambil mukena, mengambil sajadah dan ada juga yang
mulai berdiri membuat shaf.Saat itu ada seorang anak laki-laki yang sudah
bingung ingin menjadi imam , kami
padahal sempat meliha t jadwal siapa yang bertugas jadi imam.
“ Bu, saya jadi imam ya buu..ya bu....” kata
anak itu berkali-kali sambil nggondeli baju kami.
Saat itu kami
belum bisa menjawab permintaan anak tadi. Setelah kami tanyakan jadwalnya siapa
yang jadi imam, teernyata bukan gillirannya anak tadi. Dia sudah jadi imam hari
sebelumnya.Dengan terpaksa kami tidak mengiyakan permintaan anak tadi meskipun
efeknya luar biasa sekali. Aanak tadi menangis meraung-raung sambil memukuli
badan kami berkali-kali.tapi meskipun ada insiden seperti ini kegiatan sholat
tetap kami laksanakan.dan anak tersebut tetap menangis meskipun kegiatan sholat
telah selesai, bahkan sampai dijemput ibunya pun anak tersebut masih tetap
menangis.
Pelajaran apa
yang bisa kita ambil dari sikap kami pada kejadian ini?
Pertama kami
ingin menunjukkan kepada anak tentang konsep bersabar atau antri.karena bila
kami ijinkan untuk menjadi imam berati kami sudah menyalahi kesepakatan
bergiliran yang dah kami buat, selain itu dengan tidak mengiyakan melatih anak
untuk bersabar.
Kedua, kami
sangat senang sekali, ternyata ada anak yang begitu bersemangat mengikuti
sholat, bahkan ingin memimpin teman-temannya.
Maafkan bu guru
nak, semoga besok kamu bisa menjadi pemimpin besar yang bijaksana.Amin
Hamidah Karya
PENGALAMANKU
MENGHADAPI PEMBELAJARAN AWAL
Di RA harjosari Madyocondro.
Oleh
Siti Chamidah,S.PdI
Pada
awal pembelajaran di RA umunya dan khususnya di RA kami adalah
Suasana
yang sangat mengasyikkan sekaligus sangat melelahkan khususnya di kelas awal
yaitu kelas A, Dimana kami para guru dituntut kreatif untuk memberi
pembelajaran pada anak ataupun kegiatan yang bisa mengasyikkan sehingga anak
akan sibuk dan asyik sehingga akan bisa lepas dengan orang tuanya. Karena
umumnya diawal masuk sampai dua bulan bahkan ada yang sampai satu semester
kedepan,anak biasanya sulit sekali pisah
atau lepas dengan orang tua. Dengan realita yang demikian itu, Disekolahan kami mencoba Pembelajaran
Awal ke
anak dengan melakukan pembelajaran awal itu kita adakan di luar secara
bersama atau gabungan antara siswa – siswi kelas A dan siswa – siswi kelas B
,Yang kita biasanya dihalaman sekolah,Karena Alhamdulillah halaman sekolah
kami itu sangat luas, Biasanya pada pagi
hari kami dewan guru datang lebih awal
dibanding Siswa – siswi ,Kemudian kami para dewan guru berdiri berjejer
menyambut kedatangan Siswa - siswi bersalaman dengan Siswa – siswi dan orang
tua wali yang mengantar, Selanjutnya setelah
semua siswa datang ,para dewan guru meminta siswa berkumpul di pojok
halaman dengan berbaris 2-2 kemudian meminta anak lari ke tengah halaman sambil
menyanyi mari menginjak bumi dengan tarian atau gerakan yang asyik dilanjutkan
bertepuk dan melakukan gerakan yang sederhana yang membuat asyik dan anak
merasa bebas .
Mari
Menginjak Bumi
Permata Hati 2
PENGALAMAN
AWAL JADI GURU TK
Oleh: Tuti Harzayani, S.Pd.I.
RA Permata Hati Bantul
Ketika itu pertengahan tahun
2005, awal perjalanan karier jadi guru, sesuatu yang tak pernah di bayangkan
akan menjadi gur/pendidik di Taman Kanak-Kanak. Hari- hari awal benar- benar
hari yang amat berat untuk di lalui, baik dalam menghadapi anak-anak yang baru
masuk sekolah, dengan wali murid, dengan guru-guru yang sudah senior, pekerjaan
yang harus ku jalani atau dengan lingkungan sekitar sekolah.
Mengajar anak-anak yang masih
kecil-kecil, benar-benar pengalaman yang jarang aku temui, mungkin karena latar
belakang keluargaku yang tidak ada anak kecilnya atau karena tidak biasa
bermain dengan anak kecil membuat aku benar-benar bingung harus berbuat apa
dengan anak-anak tersebut, kadang aku hanya diam saja jika di suruh teman untuk
gantian mengajar, kadang aku harus
bercucuran keringat ketika harus mengajarkan atau mendidik sesuatu hal kepada
anak-anak. bagaimana tidak dengan materi ke TK an saja aku belum tahu apalagi
kalau harus mengajarkan ke anak-anak. Belum lagi anak-anak juga belum bisa di
kondisikan, ada yang masih suka menangis, ada yang tidak mau di tinggal
orangtuanya, ada yang tidak mau masuk kelas, ada yang sukanya jalan-jalan,
benar-benar bikin aku bingung dan harus berbuat apa. Saat itu benar-benar hidup
penuh dengan beban.
Tidak hanya itu,dengan teman-temanpun
bagiku mereka juga masih baru dan asing bagiku. Oh, ya sebelumnya aku bekerja
sebagai tenaga administrasi sebuah Perguruan Tinggi, dimana komunitas yang di
hadapi sangan jauh dari yang ku hadapi ketika aku awal di TK. Sebagaimana
umumnya orang yang baru, aku belajar beradaptasi dengan mereka,ada yang
menerima apa adanya aku, ada juga yang sinis menerima keberadaanku,
Namun seiring berlalunya waktu,
hal-hal awal yang merupakan beban lama-lama semakin hilang. Barangkali karena
pengalaman yang sehari-hari di hadapi juga berpengaruh terhadap pola mengajar
dan bergaul dengan teman-teman seprofesi. Lambat laun aku mulai dapat menata
sikap dalam mengajar bersama anak dan beran bergaul dengan sesama.
Hal yang membuat aku tersentuh adalah
bahwa mungkin ada salah satu anak yang akan mendoakan kita ketika kita tiada.
Sekolahku
PENGALAMAN KETIKA DI SEKOLAH
Oleh: Asrofah
Ketika saya menggunakan metode cerita
tanpa alat perga disekolah banyak anak yang tidak memperhatikan cerita dari
guru sehingnga pesan kepada anak tidak maksimal tersampaikan.Bahkan anak banyak
ngobrol sendiri,bermain dengan temanya dan suasana kelas menjadi gaduh.
Kemudian
saya bercerita lagi dengan menggunakan boneka jari ternyata anak sangat
antusias dan semua miendengarkan c erita dari guru.
Ada sebuah kejadian ketika mengajar
di kaikelas sangat ramai dan sangat
ramai dan sulit dikendalikan mengambil kalender yang suudah tidak terpakai,lalu
anak-anak ku bagi dalam 3 kelompok kemudian tiap kelompok ku kasih 1 lembar
kalender ,gunting,kertas hvs dan lem.
Kemudian
dengan kerja kelompok angka dalam kalender di gunting lalu di tempel di kertas
hvs.Anak sangat antusias dan berlumba-lumba mengerjakan.
Permata Hati
PENGALAMAN SAYA KETIKA MEMBERI HAFALAN SURAT PENDEK PADA
ANAK
Oleh:
Muslikah Suriah, S.Pd.I.
RA Permata
Hati Al-Mahalli Bantul
Saat itu ketika saya masuk di dalam
kelas anak-anak masih disibukkan dengan bermain. Ada yang bermain sendiri, ada
yang bermain dengan teman-temannya.Salah satu anak ada yang berbisik pada temannya
sambil berkata “ Eee ayo kita kita rapikan mainannya, bu guru sudah datang”
Tiba-tiba anak-anak serentak mengucapkan assalamu”alaikum Bu guru. Saya
tersentak karena ketika itu saya memang belum mengucapkan salam pada
anak-anak.Dalam hati saya juga bangga ternyata anak-anak tanpa disuruhpun mereka sudah otomatis mengucapakan salam
ketika ada orang lain bertemu dengan mereka.
Saya bersyukur Alhamdulillah selama ini
pembiasan yang saya tanamkan kepada
mereka sudah mulai diamalkan dan
kelihatan hasilnya.Saya langsung menjawab wa”alaikum salam anak-anak ku sayang.
Setelah itu anak –anak berebut untuk duduk dekat bu guru.Biasanya anak yang
berangkatnya lebih dulu daripada teman-temannya akan mendapat giliran untuk
duduk dekat dengan bu guru.Anak-anakpun kemudian merapikan duduknya mulailah
berdoa bersama-sama dengan dipimpin salah sorang anak yang sudah
ditunjuk oleh ibu guru.Dengan suasana tenang anak-anak mulai berdoa sesuai
dengan pembiasaan yang menjadi kegiatan rutinitas setiap harinya.
Namun belum selesai doa yang kita
bacakan tiba –tiba ada salah satu anak yang menangis. Bacakan doa kami hentikan
sejenak, saya tanyakan kenapa nak kok menangis.Ternyata karena dicubit oleh teman yang ada
disebelahnya. Setelah suasana tenang kembali bacaan doa kita lanjutkan lagi. Setelah
selesai berdoa saya tanyakan kepada anak yang tadinya menangis katanya dicubit
oleh Rizki. Selama ini Rizki memang sering sekali membuat keributan di kelas.Pernah
suatu hari saya berkunjung di rumahnya untuk menanyakan bagaimana sebenarnya
pola pendidikan yang diterapkan di keluarga mereka. Saya berbincang banyak
kepada ibunya kebiasaan apa saja yang sering dilakukan di rumah. Panjang lebar
ibunya bercerita mengenai kebiasaan anaknya di rumah. Salah satunya adalah
bahwa anak tersebut kurang bersosialisasi dengan temen-temannya di rumah,
karena keluarga mereka pendatang/kost. Kesehariannya hanya di depan televisi.
Biasanya acara yang ditonton adalah film kartun yang menggambarkan tentang kehidupan
yang keras, perang-perangan, perkelahian dan yang sejenisnya. Ditambah lagi ,
dalam mendidik, ayahnya sering
menggunakan kekerasan fisik. Misalnya anak tersebut berbuat kesalahan, sering
dipukul, ditampar dll. Berangkat dari situ saya juga hanya prihatin, di jaman
sekarang masih ada orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan kekerasan. Karena
saya yakin itu akan berpengaruh pada pertumbuhan psikisnya. Jadi memang apa
yang saya alami menggambarkan betapa pentingnya pendidikan anak dalam
keluarga.Orang tua sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik
dan psikisnya.
Langganan:
Postingan (Atom)