E. Landasan Teori
1. Strategi Puzzle
Strategi merupakan suatu keputusaan bertindak dari guru dengan menggunakan kecakapan dan sumber daya pendidikan yang tersedia, untuk mencapai tujuan melalui hubungan yang efektif antara lingkungan dan kondisi yang memungkinkan. Lingkungan di sini adalah lingkungan yang memungkinkan siswa belajar dan guru mengajar sedangkan kondisi dimaksudkan sebagai suatu iklim kondusif dalam belajar mengajar seperti disiplin, kreatifitas, inisiatif dan sebagainya.
Strategi Puzzle merupakan bagian dari pembelajaran aktif (active Learning). Active Learning merupakan suatu konsep yang memandang bahwa siswa memiliki gaya belajar (learning style) yang berbeda-beda. Ada siswa yang lebih senang membaca, ada yang senang berdiskusi, dan juga senang praktek langsung.
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Strategi Puzzle merupakan bentuk dari peninjauan kembali dari penyampaian materi yang disampaikan dengan menggunakan pertayaan-pertanyaan dalam bentuk teka-teki yang akan mengundang patisipasi siswa. Pada strategi puzzle ini bisa dilakukan secara individu maupun kelompok.
Strategi puzzle dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan tanpa kehilangan esensi yang belajar yang sedang berlangsung, strategi puzzle dapat melibatkan partisipasi siswa secara aktif sejak awal.
.
Prosedur dari strategi puzzle adalah :
a. Dalam pembelajaran puzzle guru menjelaskan nama-nama penting kata terminologi yang terkait dalam pembelajaran
b. Guru membagi siswa mejadi kelompok kecil dengan anggota kelompok berisi 3-4 siswa.
c. Guru menyusun sebuah teka-teki sederhana dengan menyertakan unsur mata pelajaran.
d. Guru menyusun kata-kata pemandu pengisian teka-teki.
e. Guru membagikan teka-teki kepada siswa, (teks-teki disini bisa bervariasi yaitu dengan cara memasangkan, mengisi kata dalam bentuk tabel, mersngkai huruf menjadi sebuah kata, dll).
f. Guru membatasi waktu pada siswa dalam menyelesaikan teka-teki dan guru memberikan penghargaan kepada tim yang memiliki jumlah jawaban benar paling banyak.
Dalam penggunaan strategi puzzle ada beberapa komponen yang dapat diambil :
a. Belajar Tim
Fungsi utama dari belajar tim adalah dimana siswa bisa bekerjasama menyiapkan anggota tim agar semua anggota tim faham terhadap materi yang telah dijelaskan guru, mereka belajar dalam tim melalui hand out dan catatan, saling membantu antar anggota jika mengalami kesulitan sehingga mereka dapat mengerjakan puzzle dengan baik. Jika ada anggota kelompok yang tidak mengerti atau tidak tahu jawan teman yang lain dapat membantu sehingga yang tidak mengerti menjadi paham dan mengerti.
b. Kuis
Kuis Setiap anggota tim bertanggung jawab untuk mempelajari dan memahami materi yang telah disampaikan. Kuis yang berupa puzzle dilaksanakan dalam setiap kelompok.
c. Penghargaan Tim
Penghargaan diberikan kepada tim yang mendapatkan skor tertinggi dari tim yang lain dengan kriteria benar dan tercepat dalam mengerjakan lembar kerja siswa selama pelaksanaan tindakan.
2. Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata motiv yang artinya daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Motiv tidak dapat dilihat secara kasat mata melainkan, dapat diinteprestasikan melalui tindakan yang dilakukan, berupa rangsangan, dorongan, pembangkit tenaga munculnya suatu tingkahlaku tertentu. Sedangkan motivasi adalah dorongan yang terdapat pada diri seseorang untuk berusaha mengadakan peubahan tingkahlaku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Sardiman berkata dalam bukunya yang berjudul Interaksi dan Motivasi belajar mengajar menurut Mc.Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan adanya tanggapan terhadap adanya tujuan.
Motivasi merupakan ungkapan yang dilakukan seseorang diwujudkan dengan tindakan senang dalam melakukan sesuatu. Dalam pembelajaran motivasi siswa dapat dilihat pada saat siswa mengiktui pembelajaran yaitu dengan melihat apa yang mereka lakukan misalnya kesiapan dalam mengeluarkan buku pelajaran, mengikuti pelajaran dengan hati yang senang terpancar dari wajah yang berbinar-binar, selalu ceria dan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Motivasi belajar adalah adanya dorongan internal dan eksernal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkahlaku, pada umumnya ada beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Dimana dorongan internal dari dalam diri siswa sendiri yaitu keinginan berhasil untuk belajar dan kebutuhan akan cita-cita, sedangkan dorongan eksernal berasal dari luar siswa yaitu adanya penghargaan, lingkunagn belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik.
Untuk membangkitkan motivasi intrinsik bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
a. Menjelaskan mengapa suatu mata pelajaran diajarkan dan apa kegunaannya dalam kehidupan di masa depan
b. Menunjukkan antusias dalam mengajar dan menggunakan prosedur mengajar yang sesuai
c. Menyajikan bahan pelajaran yang tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sukar
d. Menjaga disiplin belajar di dalam kelas
e. Memberikan hasil pekerjaan peserta didik dalam waktu sesingkat mungkin.
Sedangkan cara untuk membangkitkan motivasi ekstriksik antara lain dengan adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang menarik.
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil.
b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.
d. Adanya penghargaan dalam belajar.
e. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.
Keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditunjukkan oleh siswa saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, ini dapat dilihat dalam hal:
a. Minat dan perhatian siswa dalam pembelajaran.
b. Semangat siswa dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
c. Tanggung jawab siswa dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
d. Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
e. Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
Sedangkan menurut Sardiman, indikator dari motivasi adalah :
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai)
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa)
c. Lebih senang bekerja mandiri
d. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah
e. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)
f. Senang memecahkan soal-soal atau permasalahan.
Didalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi sangat penting baik intrinsik maupun ekstrinsik. Dengan motivasi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar :
a. Memberi angka sebagai simbol nilai kegiatan belajarnya
b. Hadiah harus digunakan sesuai kebutuhan, maksudnya tidak semua peserta didik dapat diberi hadiah
c. Saingan atau kompetisi yang positif dapat membantu siswa dalam meningkatkan pembelajaran baik dalam kelompok maupun individu.
d. Ego-involvement yaitu menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dan mempertaruhkan harga diri merupakan motivasi
e. Memberi ulangan yaitu siswa akan giat belajar jika mengetaui ada ulangan
f. Mengetahui hasil, dengan mengetahui hasil siswa akan menjadi semangat dalam belajar
g. Pujian siswa akan merasa senang jika mengerjakan sesuatu dengan baik dan mendapat pujian dari guru
h. Hukuman, dengan adanya hukuman siswa akan menjadi termotivasi untuk belajar walaupun dengan paksaan
i. Hasrat untuk belajar yaitu ada kesengajaan siswa untuk belajar hal ini lebih baik jika dibanding dengan mengerjakan sesuatu tanpa maksud.
j. Minat merupakan alat motivasi yang pokok karena untuk menimbulkan motivasi harus terlebih dahulu memiliki minat
k. Tujuan yang diakui jika memiliki tujuan yang akan dicapai dan diakui jika tujuan itu baik maka dengan sendirinya dapat memotivasi siswa.
3. Keaktifan Siswa
Proses belajar akan lebih menarik jika melibatkan fisik siswa dan mental siswa, jadi siswa akan lebih bersemangat dan lebih akif dalam proses belajar mengajar yang dilakukan. Bentuk keaktifan siswa salah satunya adalah dengan pemusatan mengenai apa yang disampaikan guru, perenungan, dan penerapan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru. Jadi dalam pembelajaran siswa lebih dominan karena siswa lebih banyak melakukan keakifan kegiatan pebelajaran.
Menurut Oemar Hamalik, aktivitas belajar bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut prestasi siswa akan meningkat. Aktivitas belajar tersebut meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas mental. Dalam buku Oemar Hamalik yang berjudul Proses Belajar Mengajar dijelaskan bahwa menurut Paul D. Dierich, aktivitas belajar tersebut dapat digolongkan menjadi delapan, yaitu:
a. Visual Activities meliputi membaca, memperhatikan, percobaan, demonstrasi, mengamati.
b. Oral Activities meliputi mengatakan, merumuskan, menjawab, bertanya, memberi saran, diskusi, menanggapi, mengemukakan pendapat, presentasi.
c. Listening Activities meliputi mendengar, menerima, diskusi.
d. Drawing Activities meliputi menggambar, membuat grafik, membuat peta diagram.
e. Writing Activities meliputi menulis cerita, membuat rangkuman, menulis laporan.
f. Motor Activities meliputi melakukan percobaan, membuat model bermain.
g. Mental Activities meliputi mengingat, menganggap, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h. Emotional Activities meliputi menaruh minat, menaruh bosan, gembira, berani, sedih, tenang, gugup.
Ada beberapa cara untuk meningkatkan keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam belajar mengajar, yaitu:
a. Untuk memperbaiki keterlibatan kelas
1) Memberikan waktu yang lebih banyak dalam kegiatan belajar mengajar.
2) Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar dengan menuntut respon yang aktif dari siswa. Gunakan berbagai cara atau teknik belajar, motivasi serta penguatan.
3) Masa transisi antara berbagai kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat dan luwes.
4) Berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
5) Usahakan agar pembelajaran menjadi lebih menarik minat siswa, maka dari itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkan bahan dan prosedur pengajaran.
b. Untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
1) Kenalilah dan bantulah anak-anak yang kurang terlihat. Selidiki apa yang menyebabkannya dan usaha apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan partisipasinya anak tersebut.
2) Siapkanlah siswa secara tepat, persyaratan awal apa yang diperlukan untuk mempelajari tugas belajar yang baru.
3) Sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan individual siswa. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan usaha dan keinginan siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar.
Sebagai seorang guru harus mengetahui adanya keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, dan membuat siswa aktif dengan menciptakan kondisi yang sebaik mungkin sehingga hasil pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.
4. Sejarah Kebudayaan Islam
Dalam UU No.20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwaa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai hal tersebut maka salah satu bidang studi yang haru dipelajari adalah pendidikan agama Islam dengan tujuan agar mampu membentuk kepribadian siswa bertakwa, beriman, dan memiliki akhlak mulia.
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan pembentukan sikap, kepribadian, dan ketrampialan siswa yang dalam mengamalkan ajaran agama Islam. Di Madrasah Ibtidaiyah Pendidikan Agama Islam terdiri dari empat mata pelajaran: Al Qur’an Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, Aqidah Akhlak, dan Fiqh. Masing-masing pelajaran pada dasarnya terkait dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Dari keempat komponen mata pelajaran tersebut salah satunya adalah Sejarah Kebudayaan Islam (Tarikh) dimana dalam pembelajaran SKI berisi Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam pada masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai dengan masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial, mata pelajaran Sejara Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada siswa untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian siswa. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada tingakat Madrasah Ibtidaiyah menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
Dalam pembelajaran SKI di MI bertujuan agar siswa memiliki :
1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
2. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
4. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
Oleh karena itu pembelajaran sejarah kebudaan Islam harus disampaikan dengan baik dan teliti sehingga siswa dapat merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini dikarenakan kehidupan ini tidak bisa terlepas dengan masa lampau, yang artinya berkaca dari kehidupan orang terdahulu untuk menuju kehidupan selanjutnya. Sehingga pembelajaran sejarah kebudayaan Islam sangat diperlukan sebuah ketelitian, agar pemahaman siswa tentang sejarah kebudayaan Islam bisa teraplikasi dalam pikiran, hati dan perbuatan yang nantinya akan membentuk watak manusia yang berbudi pekerti dan sadar akan kehidupan yang dijalaninya semasa didunia ini.
Metode pembelajaran agama Islam selama ini masih menggunakan cara lama yaitu dengan menggunakan metode ceramah yang disampaikan oleh guru dan siswa hanya sebagai objek yang mendengarkan. Dengan pembelajaran seperti itu menjadikan pembelajaran kurang menarik dan membuat siswa jenuh bahkan tidak sedikit yang mengantuk dan berbicara dengan temannya. Pembelajaran sejarah kebudayaan Islam juga kebanyakan tidak menggunakan evaluasi pada akhir pembelajaran sehingga siswa tidak paham terhadap apa yang dia pelajari dan dia dapat selama proses pembelajaran berlangsung.
5. Efektifitas Strategi Puzzle Dalam Meningkatkan Keaktifan dan Motivasi Siswa Dalam Pembelajaran SKI
Strategi Puzzle merupakan bentuk dari peninjauan kembali dari penyampaian materi yang disampaikan dengan menggunakan pertayaan-pertanyaan dalam bentuk teka-teki yang akan mengundang patisipasi siswa. Materi yang telah ditinjau kembali (review) oleh siswa mungkin akan disimpan lima kali lebih kuat dari pada materi yang tidak ditinjau. Hal itu karena memudahkan siswa untuk mempertimbangkan informasi dan menemukan cara-cara untuk menyimpan dalam otaknya. Disamping menjadikan aktif, mereka semua membuat tinjauan yang menyenangkan.
Menurut K. Jones (2007), strategi puzzle mengandung aspek rekreatif sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Strategi puzzle berpotensi menarik minat siswa yang memiliki tipe belajar bervariasi yaitu visual, audio maupun kinestetis. Selain itu strategi puzzle bisa dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan hampir semua bidang studi.
Menurut M. Baker (2006), dalam pelajaran sejarah puzzle bisa di gunakan untuk mempelajari fakta, peristiwa dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah.
Dalam pembelajaran SKI ditingkat MI merupakan mata pelajaran yang dianggap masih sulit terlebih bagi siswa kelas III karena mereka mendapakan ilmu baru yang belum pernah mereka dapatkan secara pokok sebelumnya. Oleh karena itu untuk membantu siswa dalam memahami mata pelajaran SKI dan tidak membuat mereka jenuh peneliti menggunakan strategi puzzle untuk membantu guru dalam memberikan pemahaman terhadap materi SKI. Strategi puzzle dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa. Dengan memberikan permainan sederhana tetapi memiliki ketelitian dan pemahaman dalam menjawab soal-soal yang menjadikan siswa termotivasi untuk mngetahui jawaban sehingga meraka berusaha untuk mencari jawaban pada hand out atau catatan. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa siswa dapat lebih aktif dan lebih termotivasi.
F. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada landasan teori dan penelitian yang pernah dilakukan sebelunya strategi puzzle dapat meningkatkan pembelajaran siswa, sehingga hipotesis yang diambil peneliti adalah strategi puzzle dapat meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa kelas III MI Muhammadiyah I Gading Satren, Belangwetan, Klaten Utara, Klaten dalam pembelajaran SKI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar